Dian Nita Pangastuti/MPWK
Selama beraktivitas di Magister Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik UGM, saya merasakan bahwa perjalanan akademik bukan sekadar tentang memperoleh ilmu, tetapi juga tentang membentuk karakter, memperluas perspektif, dan menemukan jati diri. Hari-hari di kampus diisi dengan dinamika belajar yang menantang sekaligus menyenangkan. Diskusi di kelas sering kali tidak berhenti pada teori, tetapi juga mengkaji fenomena yang terjadi dan berkembang menjadi perdebatan kritis yang membuka wawasan baru. Dosen tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai mentor yang mendorong kami untuk berpikir lebih dalam dan berani menyampaikan gagasan.
Pengalaman riset menjadi salah satu bagian paling berkesan. Prosesnya tidak selalu mudah, mulai dari menentukan topik, mengumpulkan data, hingga menganalisis hasil yang sering kali diwarnai dengan kebingungan. Namun justru di situlah letak pembelajaran terbesar. Saya belajar tentang ketekunan, manajemen waktu, dan bagaimana menghadapi ketidakpastian. Momen ketika akhirnya memahami pola data atau menemukan jawaban atas pertanyaan penelitian memberikan kepuasan tersendiri yang sulit digantikan.
Perjuangan menyelesaikan tesis mungkin menjadi fase paling menantang sekaligus paling membentuk. Ada masa-masa merasa lelah, kehilangan motivasi, bahkan meragukan diri sendiri. Namun dukungan dari teman, dosen pembimbing, dan lingkungan kampus membuat saya mampu bangkit. Proses ini mengajarkan bahwa kegagalan dan keterlambatan bukanlah akhir, melainkan bagian dari perjalanan menuju keberhasilan.
Selain itu, jejaring yang terbangun selama di FT UGM menjadi aset berharga. Teman-teman berasal dari berbagai daerah dengan latar belakang yang beragam, sehingga setiap interaksi menjadi kesempatan untuk belajar hal baru. Tidak jarang, diskusi santai di kantin atau kerja kelompok berubah menjadi ruang bertukar ide yang inspiratif. Relasi ini tidak hanya berhenti di bangku kuliah, tetapi berpotensi menjadi kolaborasi di masa depan.
Salah satu pengalaman yang tak terlupakan adalah mengikuti studio perencanaan wilayah di Kabupaten Malang. Pada kegiatan ini, kami tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi langsung terjun ke lapangan untuk menerapkan ilmu yang telah dipelajari. Kami melakukan survei langsung, berinteraksi dengan masyarakat, serta menggali berbagai informasi yang relevan dengan kondisi wilayah. Proses ini membuka pemahaman bahwa perencanaan tidak bisa dilepaskan dari realitas di lapangan.
Selain itu, kami juga berkesempatan untuk berkolaborasi dengan berbagai stakeholder, mulai dari pemerintah daerah, pelaku usaha, hingga masyarakat setempat. Melalui proses ini, saya belajar bahwa perencanaan wilayah bukan hanya soal analisis teknis, tetapi juga tentang bagaimana mengakomodasi berbagai kepentingan dan membangun komunikasi yang efektif. Pengalaman ini menjadi bekal berharga untuk memahami kompleksitas perencanaan secara nyata.

Di luar aktivitas akademik, kehidupan di Yogyakarta juga memberikan warna tersendiri. Kota ini menawarkan keseimbangan antara kesederhanaan dan kehangatan. Dari sekadar menikmati kopi di sudut kota, menjelajahi tempat-tempat budaya, hingga melepas penat di alam terbuka semua menjadi bagian dari pengalaman yang memperkaya kehidupan mahasiswa. Jogja bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang untuk tumbuh secara personal.
Pada akhirnya, pengalaman di FT UGM bukan hanya tentang gelar yang diperoleh, tetapi tentang proses panjang yang membentuk cara berpikir, sikap, dan nilai-nilai dalam diri. Bagi mahasiswa aktif maupun calon mahasiswa, perjalanan ini mungkin tidak selalu mudah, tetapi setiap tantangan yang dihadapi akan membawa pembelajaran yang berharga. FT UGM bukan sekadar tempat menimba ilmu, tetapi juga tempat untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih tangguh, kritis, dan siap menghadapi masa depan. (PWK)