Lebih dari Sekadar Kota: Jogja sebagai Laboratorium PWK

Ayub Abdul Rahman/Magister Perencanaan Wilayah dan Kota

Bagi siapa saja yang memutuskan untuk melanjutkan studi di bidang perencanaan wilayah dan kota (PWK), Yogyakarta adalah pilihan yang tepat. Berkuliah di Jogja bukan sekadar belajar sambil berwisata. Jogja adalah sebuah laboratorium untuk menyelami dinamika kehidupan kota dan kampung yang kaya akan nilai budaya, sejarah, dan keberagaman sosial.

Saya mulai dengan bagaimana Jogja terbentuk melalui pemikiran visioner Pangeran Mangkubumi, yang merencanakan tata ruang Jogja berdasarkan sebuah filosofi. Melalui konsep “Sangkan Paraning Dumadi”, kita diajarkan bahwa merencanakan sebuah kota tidaklah cukup jika hanya berlandaskan teori. Perencanaan kota bukan sekadar menyusun zonasi atau membangun infrastruktur, tetapi juga merancang ruang yang mampu mengakomodasi perjalanan hidup manusia secara utuh, baik secara fisik maupun spiritual. Keunikan ini membuat saya tertarik untuk mendalami lebih jauh tentang cerita-cerita di balik sumbu filosofi. Saya rutin mengikuti berbagai kegiatan tur yang menjelaskan sumbu filosofi maupun asal usul kampung-kampung di Jogja. Kegiatan ini saya lakukan untuk menyeimbangkan pengetahuan teoritis yang saya dapatkan selama mengikuti perkuliahan di MPWK UGM dengan praktik nyata di lapangan.

Belajar Gamelan

Di samping itu, perencanaan tata ruang di Jogja tidak lepas dari budaya dan tradisi yang telah tertanam kuat di setiap sudut kota dan masyarakatnya. Hal ini memperkuat identitas Jogja sebagai salah satu daerah terbaik dalam pembangunan berbasis budaya. Sebagai mahasiswa PWK, saya sangat menyarankan untuk rajin mengikuti setiap kegiatan berbasis kebudayaan yang ada di Jogja. Melalui kegiatan tersebut, kita dapat mempelajari bagaimana suatu sistem berjalan dan mengadaptasinya di daerah asal. Bagi saya, Jogja memiliki branding yang sangat kuat sehingga dapat menjadi benchmark bagi daerah lain yang memerlukan peningkatan place branding. Di sisi lain, pembelajaran di MPWK UGM juga sangat berfokus pada isu pembangunan oleh pemerintahan. Kombinasi tersebut akan memberikan keseimbangan antara pemahaman teoritis dan praktikal mahasiswa.

Selanjutnya, Jogja dikenal dengan wilayah yang menyimpan banyak cerita sejarah. Perannya sebagai ibukota Republik Indonesia pada masa perjuangan kemerdekaan bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi turut membentuk wajah kota hingga saat ini. Keberadaan berbagai monumen perjuangan mendukung pengembangan ruang publik sekaligus pengembangan pariwisata yang berbasis sejarah dan edukasi. Selain itu, Jogja juga pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan-kerajaan di masa lampau, sehingga banyak zonasi pelestarian budaya yang membentuk variasi wajah kota. Hal ini dapat menjadi materi penunjang pembelajaran bagi mahasiswa PWK, terutama yang tertarik dengan kajian perencanaan zonasi dan cagar budaya.

Terakhir, menurut saya yang paling menarik dari berkuliah di Jogja adalah ekosistem keberagamannya. Lingkungan sosialnya sangat mendukung mahasiswa untuk berorganisasi dan memperluas relasi di luar lingkaran perkuliahan. Masyarakat Jogja dikenal sebagai SDM tinggi, sehingga kreatifitas dan seni bertebaran dimana-mana. Banyak komunitas dan perayaan yang tercipta di Jogja. Saya pun seringkali memberanikan diri untuk berpartisipasi sebagai panitia dalam suatu event. Dengan begitu, saya tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut serta berkontribusi dalam keberlanjutan ekosistem kreatif di Jogja.

Panitia Rakernas JKPI

Pada akhirnya, berbagai pengalaman yang saya dapatkan di Jogja membuat saya selalu merasa bahwa pulang ke kotamu, menghadirkan ada setangkup haru dalam rindu. Sejak pertama kali menginjakkan kaki hingga saat ini, tiap sudut Jogja selalu menyapaku bersahabat dengan penuh selaksa makna. Setiap kali mengingat Jogja, saya selalu terhanyut akan nostalgia, dan ingin berkata ‘kangen Jogja’.

Kangen Jogja

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *