Arbain/Magister Teknik Elektro
Perkenalkan, nama saya Arbain. Saya lahir dari orang tua yang sangat luar biasa, walaupun keduanya tidak memiliki Pendidikan yang tinggi, ayah saya hanya mampu bersekolah sampai kelas VII sekolah menengah, sedangkan Ibu saya hanya bisa duduk sampai dibangku kelas II sekolah dasar. Walaupun seperti itu, Saya tetap bangga bisa dilahirkan sebagai salah satu anak Mereka. Mereka berhasil menanamkan mimpi dan cita-cita besar untuk saya dalam menembus segala keterbatasan.
Saya adalah lulusan Program Magister Teknik Elektro, Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (DTETI), Fakultas Teknik UGM angkatan 2023 Genap. Jika saya memutar kembali ingatan ke beberapa tahun lalu, berdiri di sini sebagai bagian dari alumni Universitas Gadjah Mada terasa seperti sebuah kemustahilan yang menjadi nyata.
Saya lahir dan tumbuh di Dusun Lawalangke, Kelurahan Lakorua, Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara. Sebuah tempat yang jauh di seberang lautan, di mana deru ombak Pulau Buton lebih akrab di telinga daripada istilah-istilah teknologi mutakhir. Bagi anak kampung seperti saya, UGM adalah mercusuar ilmu yang sinarnya hanya bisa saya lihat dari kejauhan. Jangankan mendaftar, untuk sekadar bermimpi menginjakkan kaki di sini saja saya tidak berani. Rasa insecure seringkali membisikkan bahwa tempat ini terlalu mewah untuk pemuda dari pelosok seperti saya.
Namun, hidup adalah tentang keberanian melangkah menembus ketakutan. Saat pertama kali menapakkan kaki di Teknik Elektro UGM, rasa minder itu kian menguat. Saya melihat wajah-wajah cerdas dari seluruh penjuru negeri dan berpikir bahwa saya hanyalah titik kecil yang akan tersisih. Namun, asumsi itu perlahan luruh saat saya mulai berinteraksi dengan lingkungan kampus.
Di Fakultas Teknik, saya tidak menemukan menara gading yang dingin. Saya justru menemukan sebuah pelukan hangat layaknya keluarga. Di ruang-ruang kelas dan laboratorium, kami tidak dididik untuk menjadi pesaing yang saling menjatuhkan, melainkan menjadi rekan yang saling menguatkan. Kehangatan itu mengalir dari teman-teman sejawat yang selalu siap mengulurkan tangan tanpa memandang asal-usul, hingga para staf yang melayani dengan tulus hati.
Perjalanan ini mencapai puncaknya berkat bimbingan dua sosok guru luar biasa yang tidak hanya mengisi pikiran saya dengan ilmu, tetapi juga membangkitkan rasa percaya diri saya. Rasa syukur dan hormat yang setinggi-tingginya saya haturkan kepada Prof. Dr. Eng. Ir. Francisco Danang Wijaya, S.T., M.T., IPM. dan Dr.-Ir. Yohan Fajar Sidik, S.T., M.Eng. Beliau berdua adalah lentera yang membimbing saya menembus keraguan, mengajarkan bahwa kecerdasan haruslah bersanding dengan kerendahan hati. Dukungan fasilitas kampus yang sangat mumpuni pun seolah menjadi rumah kedua yang memberikan kenyamanan tak terhingga selama masa studi saya.
Segala pencapaian ini pun mustahil terwujud tanpa kemurahan hati dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Terima kasih telah mempercayai mimpi seorang anak dari Pulau dan memberikan jembatan bagi saya untuk meraih masa depan di universitas terbaik ini.
Kini, saya berdiri dengan tegak, bukan karena saya merasa paling hebat, tapi karena UGM telah mengajarkan saya bahwa tak ada mimpi yang terlalu besar selama kita berani memulai. UGM benar-benar merupakan Kampus Kerakyatan yang merangkul segala perbedaan. Pesan saya untuk saudara-saudaraku di pelosok daerah, jangan biarkan asal-usulmu membelenggu mimpimu. Sejauh apa pun jaraknya, jika hatimu terpanggil untuk belajar, UGM memiliki tempat yang hangat untukmu pulang.
