Memoar Perjalanan Akademik Studi Magister di FT UGM

Rommy Hartono/Magister Teknik Elektro

Kalau ada yang bilang kuliah S2 itu penuh ketenangan dan kedewasaan, mungkin mereka belum pernah dikejar deadline sambil debugging FPGA jam 2 pagi. Buat saya, kuliah di Magister Teknik Elektro FT UGM itu lebih mirip roller coaster. Kadang mulus, kadang kebalik, tapi entah kenapa… nagih.

Awal masuk, saya datang dengan cukup pede. Ngerasa sudah punya bekal, jadi harusnya aman. Ternyata, FT UGM punya cara sendiri buat “menyadarkan”. Diskusi di kelas bukan sekadar formalitas. Pertanyaan dosen kadang simpel, tapi jawabannya bisa bikin mikir berhari-hari. Di situ saya mulai sadar, kuliah di sini bukan soal cepat-cepatan jawab, tapi soal benar-benar paham.

Ada satu kebiasaan yang berubah total: tidur siang. Saya tipe orang yang hampir nggak pernah tidur siang. Tapi selama kuliah di FT UGM, setiap ada kesempatan, pasti saya pakai buat tidur. Bahkan 15–20 menit pun terasa sangat berharga. Ternyata ini bukan malas, tapi strategi bertahan hidup.

Masuk ke fase tesis, ini bagian paling “seru”. Saya ambil topik sistem penerima data kamera satelit berbasis FPGA. Kedengarannya keren, sampai akhirnya dijalanin. Mulai dari sinyal yang nggak sinkron, data yang tiba-tiba ngaco, sampai fase legendaris: “ini salah di mana sih?” yang bisa berlangsung lama.

Yang paling tidak terlupakan: beberapa tugas, bahkan coding, harus ditulis tangan. Iya, coding ditulis tangan. Awalnya terasa absurd, tapi di situlah kita dipaksa benar-benar ngerti logika, bukan sekadar trial-error. Walaupun jujur, ada momen cuma bisa geleng kepala, “Masya Allah… ini serius?”

Pernah juga ada fase di mana saya benar-benar ngerasa down. Eksperimen nggak jalan, progres seret, dan sempat ragu bisa selesai atau nggak. Tapi di situ saya belajar, bangkit itu nggak harus langsung hebat. Cukup mulai lagi, pelan-pelan, dan tetap jalan.

Di balik semua itu, ada hal yang lebih berat dari tugas: menahan rindu. Saya menjalani kuliah ini dalam kondisi sudah berkeluarga dan memiliki anak. Ternyata, rindu itu memang berat… dan benar kata Dilan. Tapi justru dari situ saya belajar bahwa perjuangan ini bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk keluarga.

Sekarang kalau lihat ke belakang, semua proses itu terasa sangat worth it. Bukan cuma karena gelarnya, tapi karena diri ini ikut berubah. Lebih tahan banting, lebih kritis, dan lebih siap menghadapi tantangan berikutnya.

Buat teman-teman yang lagi atau akan kuliah di FT UGM, satu pesan sederhana: nikmati prosesnya, termasuk yang bikin pusing. Karena di situlah cerita terbaik kalian terbentuk.

Dan satu hal yang paling saya pegang: tesis yang baik itu tidak harus sempurna, tapi tesis yang selesai.

Satelit
Integrasi
Hardware Detail Camera
Antenna-BRIN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *