Kontak Tim: Fidel Faj’ri, [081359993848]
Tim NiFuel Universitas Gadjah Mada melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta (PKM-RE) mengembangkan katalis nikel/karbon aktif (Ni/KA) dari limbah baterai Nickel-Metal Hydride (Ni-MH) bekas. Katalis ini dirancang untuk mengubah butanol menjadi 1,1-dibutoksibutana (DBB), senyawa aditif yang berpotensi menjadi fuel booster solar untuk memperbaiki pembakaran sekaligus menekan emisi kendaraan.
Tim NiFuel diketuai oleh Fidel Faj’ri dengan beranggotakan Arashi Yuko Naeri, Olga Fitriyaningtyas, Jingga Rohmaningsih, dan Arghia Kalulla Agnafa di bawah bimbingan dosen pendamping Bapak Mokhammad Fajar Pradipta, S.Si., M.Eng. Melalui penelitian berjudul “Transformasi Limbah Baterai Nikel–Logam Hidrida Menjadi Katalis Ni/Karbon Aktif untuk Aditif Solar Berbasis Butanol”, tim NiFuel memulihkan nikel dari baterai bekas, mengimpregnasikannya pada karbon aktif tempurung kelapa, lalu menggunakan katalis tersebut untuk mengonversi butanol menjadi DBB.
Fidel Faj’ri, ketua tim PKM-RE NiFuel, menjelaskan bahwa “Kami melihat bahwa limbah baterai masih menyimpan potensi yang bisa dimanfaatkan kembali. Melalui NiFuel, kami mencoba mengolah nikel dari baterai bekas menjadi katalis bernilai tambah untuk pengembangan aditif solar, sehingga persoalan limbah dan kebutuhan inovasi energi dapat dijajaki melalui satu penelitian,” ujar Fidel.
NiFuel hadir sebagai jawaban atas dua persoalan sekaligus, yaitu polusi udara dari sektor transportasi dan menumpuknya limbah baterai. Data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) KLHK mencatat kadar PM10 dan karbon monoksida di sejumlah wilayah perkotaan Indonesia mencapai kategori sedang hingga berbahaya, salah satunya akibat pembakaran bahan bakar yang tidak sempurna. Di sisi lain, katalis yang umum dipakai untuk memproduksi aditif bahan bakar masih mahal dan kurang stabil, sementara nikel dari baterai Ni-MH bekas belum banyak dimanfaatkan.
Selain menekan biaya katalis, NiFuel menerapkan prinsip ekonomi sirkular dan green chemistry. Limbah baterai diolah menjadi sumber logam katalis, sedangkan tempurung kelapa menjadi bahan penyangga karbon aktif. Aditif DBB yang dihasilkan pun dapat dicampurkan langsung ke solar tanpa perlu memodifikasi mesin kendaraan.
Perkembangan riset dapat diikuti melalui Instagram dan TikTok @pkmreugm_nifuel.